Kamis, 06 Juli 2017

Refleksi Pendidikan Kita

Nurlin Muhammad
















Setiap daerah yang memiliki perguruan tinggi dapat dikatakan memiliki pabrik manusia berkualitas yang dapat mendorong gerak perubahan sosial dalam masyarakat. Namun anehnya, universitas (sebagai pabrik kemanusiaan) yang diharapakn justru menciptakan banyak pengangguran terdidik. Di sinilah problematika kita yakni gagalnya seluruh elemen masyarakat untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan ke dalam wilayah praksis. Kenapa bisa terjadi demikian? Apakah ada yang salah dalam pendidikan kita? Mungkin disini harus segera ditegaskan bahwa tidak ada yang salah dengan pendidikan kita. Lantas apa yang meyebabkan terjadinya kesenjangan antara idealita dan realitas pendidikan kita?
Jawaban dari pertanyaan itu adalah orientasi pendidikan kita yang menyimpang dari konsep dasar pemanusiaan manusia. Justru orientasi pendidikan kita hari ini adalah menciptakan manusia-manusia kaya dan tidak mau hidup melarat. Artinya orientasi materil dan bukan orientasi peradaban nilai. Akibatnya pendidikan menjadi strata sosial baru dalam masyarakat atau menjadi identitas baru ditengah-tengah manusia. Saya teringat dengan perkataan Thariq Modanggu dalam buku “Perjumpaan Teologi dan Pendidikan”. Thariq mengatakan seperti ini “Ya Tuhan, hampir setiap saat hamba-Mu ini berjumpa dengan Guru, Dosen, Tentara, Dokter, Polisi, Jaksa, Hakim, Politisi, Wakil Rakyat, Pejabat, Penguasa, Wartawan, Kontraktor, Pengusaha, dan sebagainya. Tetapi seringkali hamba-Mu ini rindu berjumpa dengan manusia.[1]
Pernyataan ini sangat menggelitik dan dapat memancing perdebatan karena persoalan sepakat dan tidak sepakat. Namun bila kita mencoba membuang ke-Akuan kita, tentu pernyataan Thariq itu adalah bagian dari refleksi pendidikan dan etika kehidupan kita. Pendidikan sebagai proyek pemanusiaan manusia telah berganti menjadi kumpulan manusia-manusia pemburu kesenangan. Ketika kita mencoba bertanya kepada para pelaku pendidikan: “untuk apa anda duduk di bangku pendidikan?” Mungkin kita akan banyak menemukan jawaban seperti ini “agar masa depan kami menjadi cerah.” Nah, dengan cara apa pendidikan dapat menjamin masa depan anda? Jawabannya adalah dengan gelar yang diminati oleh dunia kerja. Dan dari kerja yang dihasilkan oleh gelar itu, kehidupan saya dapat lebih mapan. Kurang lebih seperti itulah kebanyakan tujuan kita berpendidikan. Oleh sebab itu, kita menjadi cenderung mencari jurusan yang menjanjikan dalam dunia kerja. Singkatnya pendidikan kita bertujuan material, sehingga menciptakan generasi “mandul” yang bertengger di pinggiran peradaban. Sejarawan tidak akan pernah mencatat manusia yang tidak dapat menciptakan apa-apa, oleh karena itu, kita terancam dalam golongan generasi-generasi yang hilang dari perjalanan masa (the lost generations).
Lantas apakah menjadi kaya, senang dan terhormat itu salah? Jawabannya tidak salah, hanya saja yang demikian itu tidak bermakna. Uang, jabatan, kekuasaan dan sebagainya adalah alat atau media yang tidak seharusnya menjadi lebih penting dari pada proyek pemanusiaan manusia. Seharusnya pendidikan kita mengambil peran yang serius terhadap proyek kemanusiaan itu, bukan menjadi media kekayaan bagi orang-orang tertentu. Pemanusiaan manusia ini adalah bagian dari proyek yang eksistensinya bertentangan dengan insting kekuasaan dan kesenangan semata. Mungkin karena faktor inilah, pemanusiaan manusia dalam kehidupan yang dihimpit oleh gesekan modernitas beserta segala kebutuhan yang ada, menjadi proyek yang tidak banyak diminati. Memanusiakan manusia dalam pendidikan adalah pengajaran tentang nilai-nilai pengetahuan sebagai titik sentral atau tujuan utama dalam berpendidikan bukan pada materi atau sejenisnya. Sehingga tujuan praksis dari pendidikan adalah memuaskan rasa ingin tahu akan kedalaman ilmu pengetahuan. Menurut Murthada Muthahari, seperti yang dikutip oleh Thariq Modanggu, bahwa dasar dari ras manusia itu adalah pengetahuan dan agama.[2]
Pengajaran akan nilai-nilai pengetahuan itu belum selesai hanya dalam tujuan semata. Tetapi menjadi orientasi dan mengalir dalam pandangan hidup yang tercermin dalam etika pengajaran, kebebasan intelektual dan kehausan akan ilmu pengetahuan. Dengan demikian setiap mahasiswa dan dosen akan sibuk belajar bersama, berdiskusi, berdebat, dan saling memfasilitasi (bukan difasilitasi). Kecenderungan kita selama ini adalah mahasiswa menjadi pendengar ceramah yang setia. Sebab jika tidak setia akan berpengaruh pada nilai dan kelulusan mata kuliah bersangkutan. Hal ini bukan berarti mengajarkan untuk tidak disiplin, namun lebih dari itu, dosen dan mahasiswa seharusnya tidak membatasi diri pada proses perkuliahan saja, melainkan terlibat aktif dalam menggelar diskusi-diskusi bersama. Dalam suasana seperti ini, tidak ada individu yang lebih tahu, sebab hakekatnya pengetahuan manusia tidak ada yang sempurna secara totalitas. Sehingga gelar tidak lagi menjadi prioritas utama sebagai pembeda. Pembeda yang ada adalah siapa nara sumber dan siapa peserta diskusi yang saling bergantian satu sama lain (antara dosen dan mahasiswa). Saya tidak ingin kita mengulangi kesalahan iblis yang enggan bersujud kepada Adam hanya karena dia lebih senior dan terhormat.
Universitas Negeri Gorontalo yang telah memilih label “Universitas Pelopor Peradaban” sudah seharusnya menciptakan suasana akademis seperti yang digambarkan di atas. Transfer nilai-nilai peradaban tidak efektif jika hanya dilakukan dalam ruangan perkuliahan. Memang tradisi seperti ini akan menguras tenaga, pikiran, waktu dan material, namun disinilah ujian kesungguhan kita untuk melahirkan manusia-manusia berkualitas dan menjadikan kampus benar-benar sebagai “pelopor peradaban.”
Selain itu, UNG harus dapat mempertegas konsep peradaban apa yang diusungnya itu. Apakah peradaban barat atau justru mengkhusus ke penciptaan peradaban di Gorontalo. Jika peradaban Gorontalo yang diusung, seharusnya etika pengajaran kita mengacu pada nilai-nilai budaya masyarakat gorontalo, seperti halnya negeri China yang selalu mengacu pada etika Konfusianisme dan nilai-nilai budaya lainnya seperti Bhudisme dan Taoisme. Setahu saya budaya Gorontalo cenderung mengusung peradaban nilai dan bukan materi. Budaya Gorontalo banyak berbicara tentang nilai-nilai agama, persaudaraan, kekeluargaan, moralitas, dan kecerdasan. Hal ini dapat juga dilihat dari ilomata wopato (empat karya agung) yang menggambarkan penghargaan budaya Gorontalo terhadap nilai-nilai keluhuran budi pekerti dan ketinggian cipta kemanusiaan.
Kejelasan sasaran peradaban yang kita usung (pelopori) dapat mempengaruhi kejelasan tindakan yang diambil guna mencapai tujuan itu. Namun upaya keberadaban kita akan menjadi sangat “tabu” jika peradaban yang dipelopori itu menuai ketidak jelasan. Apabila UNG berkaca pada peradaban Gorontalo, seharusnya dimunculkan diskusi yang berhubugan dengan budaya Gorontalo, misalnya penciptaan Ilomata ke-lima. Dengan demikian setiap alumninya, yang akan menyebar keseluruh penjuru (baik Gorontalo maupun di lura Gorontalo) memiliki pedoman nilai dan tanggung jawab untuk merealisasikan moto almamaternya yakni “universitas pelopor peradaban”. Sepanjang peradaban yang dipelopori itu tidak jelas atau hanya kata-kata normatif saja, akan sulit rasanya untuk merealisasikannya. Justru yang ada adalah kebingungan untuk membedakan apakah moto UNG sebagai “universitas pelopor peradaban” adalah wujud kesadaran intelektual atau hanya berupa slogan yang memperindah “tumpukan” bangunan berupa kampus itu. Sekian.  




[1] Thariq Modanggu, Perjumpaan Teologi dan Pendidikan, (Cet. I, Jakarta Pusat: Qalam Nusantara, 2010), hlm. 119.
[2] Ibid, hlm. 120

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com