Selasa, 06 Oktober 2015

Aku dan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam: Suatu Catatan dari Masa Lalu



Saat Mengikuti Intermediate Training (LK-II) di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Poso 2010 



“Ketika kita membuka mata, maka saksikanlah
hanya manusia makhluk bumi yang mampu
memintal benang untuk menutupi auratnya” 
~Nurlin Muhamad~


Tulisan ini pada awalnya adalah catatan kecil saya saat bergulat dengan pemikiran Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo pada periode waktu 2006-2010. Catatan kecil itu kemudian saya tuliskan sebagai catatan pengantar saat saya berencana menulis buku tentang: "Menyoal Epistemologi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan". Walau dengan ide sederhana, naskah buku itu berhasil saya rampungkan dalam waktu 2 bulan, dan wal hasil tidak jadi terbit karena persoalan budget yang kurang. Ditambah lagi saya akhirnya menjadi kurang percaya diri untuk menerbitkannya. Hehehe
    
Perkenalan Awal
 
Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki diperguruan tinggi, muncul sebuah kekaguman yang luar biasa dalam benak saya. Jika mengingatnya kembali, mungkin kekaguman itu merupakan desakan rasa ingin tahu ketika diperkenalkan dengan banyak hal. Saya mendengar pernyataan-pernyataan yang mengugah dan sering dilontarkan oleh senior-senior, seperti mahasiswa adalah agen of change, social of control, dan yang paling berkesan adalah pernyataan “di alam semesta ini hanya ada dua yang maha, yakni ‘Maha Esa’ dan ‘mahasiswa’.” 

Saya kemudian berpikir, “wah..! Begitu tingginya derajat mahasiswa sampai dipersandingkan dengan ‘kemahaan’ tuhan, atau mungkin saya yang belum memiliki kepahaman terhadap pernyataan itu.” Demikian kebingungan yang menggantung dibelantara imajinasi pada waktu itu. Saya kemudian diajak mengikuti sebuah pelatihan dasar atau basic training (LK-I) Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat STIMIC Ichsan Gorontalo. Bagi saya pelatihan ini merupakan, persentuhan yang mampu memberikan rangsangan intelektual yang jika tidak berlebihan akan saya sebut sebagai “persentuhan awal intelektual saya.”  

Sebuah materi yang begitu menggugah pada waktu itu adalah materi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan yang disingkat dengan NDP. Awalnya saya bingung menalar materi ini. Kebingungan itu bersumber dari akronim dari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan sebagai NDP bertentangan dengan materi yang disampaikan dalam kesempatan itu yakni materi Dasar-Dasar Kepercayaan. Dalam benak saya seharusnya bukan NDP tetapi DDK (Dasar-dasar Kepercayaan) yang paling tepat untuk materi itu. Namun maklumlah, sebagai orang yang masih awam dengan materi ini lebih baik saya menjadi pendengar setia saja. 

Dasar-dasar kepercayaan kembali mempertan-yaakan (merefleksi) eksistensi keimanan kita terhadap Tuhan, sebab boleh jadi yang membuat kita mengakui adanya Tuhan hanya karena doktrin keturunan atau oleh budaya setempat. Jika pengenalan ke-Tuhan-an hanya sebatas doktrin keturunan, maka saya berpikir jangan sampai garis keturunan kita menjadi Nabi (yang memperkenalkan wahyu) bagi pengetahuan ke-Tuahan-an kita. Pernyataan ini agak sedikit ekstrim dan dapat menimbulkan reaksi keagamaan, namun inilah realitas kita dimana penelusuran tentang iman hanya sebatas urusan hati dan tidak memberi ruang pada akal untuk mempertanyakan keimanan itu sendiri. Akibatnya ajaran agama kita terkesan sebagai dogma yang memuat kisah-kisah perwatakan baik dan perwatakan buruk, serta syurga dan neraka warisan budaya nenek moyang kita. Sejak saya kecil hanya kisah-kisah itu yang diulang terus-menerus, namun disatu sisi tidak memberi petunjuk apa yang harus dilakukan umat islam kontemporer dalam menghadapi gelombang peradaban modern. Jangan heran kemudian apabila di mesjid orang sering kecurian sendal, dan tentunya bukan orang lain yang mengambil melainkan orang yang tadinya sholat bersama-sama.
   
Kembali lagi pada cerita tadi, waktu itu saya ditanya oleh Kanda Siswan Ahudulu (pemateri NDP saat itu), “menurut anda apakah Tuhan itu ada atau tidak ada?” “ya” jelas ‘ada’, tapi karena logika saya pas-pasan, akhirnya saya tidak dapat mempertahank-an argumen ada-Nya Tuhan. Ada itu adalah sesuatu yang bisa diraba, dilihat dan dirasa, demikian kesepakatan definisi “ada” dalam forum tersebut. Dengan menggunakan definisi itu, kami peserta menjadi sangat bingung, bahkan ada yang emosional dan mengeluarkan istilah ‘kafir’ kepada pemateri. Namun kanda Siswan sangat piawai dalam memaparkan materi ini, penjelasannya begitu menggugah dasar kepercayaan saya terhadap Tuhan. 

Perkenalan Selanjutnya
Sejak perkenalan itu, saya mulai jatuh hati dengan materi ini, karena itu saya berusaha menyempatkan diri untuk mengikuti intermediate training (LK-II) di HMI Cabang Palu apada tanngal 29 Januari s/d 5 Februari 2008. Waktu itu saya membuat karya tulis dalam bentuk makalah dengan judul “Antara Manusia, Khalifah dan Kediktatoran” sebagai persyaratan dalam training tersebut. Sayangnya training itu tidak sepenuhnya menjawab keingin tahuan saya tentang materi NDP. Namun training itu telah memengaruhi tata cara berpikir saya yang lebih konstruktif dalam memahami suatu persoalan.

Pencarian selanjutnya saya tempuh melalui diskusi-diskusi dan bacaan-bacaan yang berhubung-an dengan materi NDP tersebut. Namun dahaga intelektual belum juga menemukan segelas susu untuk melepas dahaganya. Yang tercipta dalam pikiran saya adalah anggapan bahwa Tuhan itu dapat dicari dengan akal dan dengan penuh percaya diri saya menulis sebuah ungkapan atau pernyataan “aku bertuhan karena akalku dan aku berakal karena Tuhanku”. Namun pada akhirnya saya merasa resah dengan pengetahuan ke-Tuhan-an yang ternyata hanya memuaskan akal dan tidak menggugah “dimensi keimanan yang terdalam”. Saya katakana demikian, sebab sejak saat itu saya lebih senang memperdebatkan Tuhan dari pada melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Dalam pengamatan kegelisaan itu, saya melihat kecenderungan pada diri saya dan teman-teman bahwa kami merasa memiliki pemikiran filsafat yang professional dam mendalam ketika memperbincangkan dimensi transendental itu. Masih adem dalam ingatan saya tentang pertanyaan-pertanyaan dalam materi NDP tersebut, misalnya: “jika Tuhanmu benar-benar berkuasa, mampukah Tuhanmu menciptakan batu yang lebih besar dari Dia sampai Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya”. Jika jawabannya “ya”, berarti batu itu menjadi lebih berkuasa dari pada Tuhan, sebab batu dapat menjadi lebih besar dari pada ukuran Tuhan, dan Tuhan tidak sanggup untuk mengangkat-nya. Jika jawabannya “tidak”, berarti Tuhan anda tidak “Maha” sebab ada yang tidak bisa Tuhan lakukan.

Demikian juga dengan sebuah teka-teki mengenai tuhan yang begitu menggelitik. Teka-tekinya seperti ini: “semua di alam semesta ini Tuhan bisa lihat, namun ada satu yang tuhan tidak bisa lihat dan itu adalah kekuarangan tuhan sekaligus kelebihannya, apakah itu?. Pertanyaan dalam bentuk teka-teki ini begitu mengganggu pemikiran saya sebab tidak mungkin Tuhan memiliki kekurangan. Tergambayang jelas dalam benak pikiran saya proposisi bahwa Tuhan itu Maha Melihat. Dan mustahil kiranya meyakini proposisi dalam teka-teki itu yang menurut saya cukup misterius. Terpikir lagi, kalaupun benar Tuhan memiliki kekurangan, secara logika terjadi kontradiksi dalam pernyataan kekurangan sekaligus kelebihan-Nya. Dalam prinsip berpikir logika tidak dibenarkan suatu pernyataan benar dan salah sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Namun ketika diutarakan jawabannya bahwa yang tuhan tidak lihat itu adalah “Tuhan-Tuhan (dengan T besar) yang lain, sebab Tuhan itu hanya satu”. Mendengar jawabannya seperti itu, sepertinya tidak ada daya untuk membantah ataupun meragukannya, ternyata pertanyaan yang kedengaran iseng itu memiliki jawaban yang teramat fundamental terhadap eksistensi Tuhan yang disembah dan diyakini oleh banyak agama (Tuhan universal)

NDP yang diceritakan diatas dulu saya telan mentah-mentah, karena terlena dan merasa keasyikan dengan pertanyaan-pertanyaan iseng tentang tuhan. Namun suatu saat saya tersadar oleh sebuah keaadaan di mana pengetahuan saya itu tidak dapat mengatasi persoalan yang saya hadapi karena tidak memberikan nilai spiritual mendalam, melainkan hanya sebuah keangkuhan pengetahuan terhadap ajaran-ajaran agama, sesekali mengklaim orang lain tidak tahu apa yang dia sembah saat menjalankan sholat. Saya begitu yakin dan percaya diri betapa saya adalah penganut Islam yang benar karena beragama dengan rasio, dan bukan karena doktrin.

Satu Minggu di Daerah Konflik
Jalanan panjang dan berliku dilalui dengan menggunakan bis penumpang dari Gorontalo menuju Poso. Terbayang dalam benak pikiran saya sebuah trauma sejarah atas kota yang akan saya kunjungi ini. Bagaimana tidak, beberapa tampilan rekaman tentang kerusuhan di Poso yang begitu mengerikan membuat ketakutan tersembunyi dalam diri saya. Namun ketika memasuki wilayah itu, terlihat tugu persaudaraan yang melambangkan tangan yang sedang berjabat tangan. Tugu batu itu seolah ingin menggambarkan perkataan dalam bahasa Jerman Nie wieder (jangan pernah terulang lagi) yang tertulis dalam munomen utama yang didirikan setelah Perang Dunia II. Ungkapan seperti itu melukiskan trauma yang mendalam dalam ingatan masyarakat akan sepotong realitas sejarah pembantaian umat manusia. Tentunya tugu batu yang saya lihat itu adalah gambaran perdamaian, dalam arti bahwa tak ada lagi konflik SARA di temapat itu dan harapan agara jangan pernah terulang lagi (nie weider)  

Kedatangan saya di derah itu bukanlah kegiatan sekedar untuk jalan-jalan atau piknik wisata alam. Kedatangan itu adalah untuk kedua kalinya mengikuti kegiatan Inter Mediate Training (LK-II) yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Poso. Untuk yang kedua kalinya saya harus ikut kegiatan ini demi memenuhi kehausan intelektual saya jika boleh dibilang seperti itu. LK-II kali ini benar-benar saya niatkan untuk mempelajari dan memperdalam  materi NDP.  

Rasa was-was dan mewanti-wanti disajikannya materi NDP dalam acara itu, membuat saya tidak perduli dengan materi-materi lain. Pada saat screening ke-ilmua-an saya sudah mulai berdebat dengan tim screening. Bagaimana tidak membantah. Tim screening itu menanyakan di mana akal itu pada saya. Menurut pemahaman saya sesuatu yang abstrak itu tidak dapat ditunjukan letaknya seperti menunjuk lokasi sebuah batu atau titik ordinat suatu wilayah. Tanpa ragu-ragu saya langsung menjawab: “pertanyaan kanda ini salah, dan maaf, saya tidak akan menjawab sebelum pertanyaannya benar”. 

Ternyata pernyataan saya itu mengundang perdebatan yang panjang antara saya dan tim screening itu. Sampai akhirnya tim screening itu mengganti topik dan saya membiarkan dia berbicara tanpa membantah lagi.  

Hari pertama training itu disampaikan akan di hadiri oleh pengurus PB HMI. Dan ternyata benar dihadiri oleh pengurus PB, Muhamad Takbier Watta. Pada kesempatan itu, Kanda Takbier memaparkan materi “Transformasi Nilai-Nilai Kejuangan HMI berbasis Pluralisme”. 

Menariknya dalam paparan materi tersebut, kanda Takbier menyinggung persoalan ketuhanan dengan merujuk pada konsep-konsep filosofis yang tersistematis. Saya merasa seperti seorang atheis yang sedang diceramahi persoalan ke-Tuhan-an, lalu saya mengacungkan tangan pertanda ingin menyampaikan sesuatu. Kesempatan bicara itu saya gunakan untuk menyampaikan kelalaian rasio dalam menjangkau Tuhan (Kelalaian logika akan saya bahas pada kajian selanjutnya dalam buku ini). Saya berargumen bahwa: “kajian kita tentang nilai seharusnya mengantarkan kita pada peribadatan atau syariat Islam yang benar, bukan hanya sekedar untuk cerdas dan merasa mengetahui Tuhan”.  

Saya pun mulai tidak sepakat dengan epistemologi yang digunakan dalam mengetahui Tuhan itu, sebab saya yakin tak ada epistemology yang memadai untuk menjelaskan perihal Ketuhanan. Kanda Takbier membalikan pertanyaan dengan tetap mengacu pada kaidah logika terutama pada bagian pendevinisian.  

Dia (Kanda Takbier Watta) menayakan arti epistemologi pada saya. Dan waktu itu saya dengan spontan menjawab “epistemologi itu adalah cara untuk memperoleh pengetahuan”. Lalu disitulah saya diklaim oleh Takbier Watta bahwa bicara saya ‘ngawur’. Saya pun kemudian membanta: “menurut referensi saya, kanda juga ngawur, dan saya tidak ingin ada pengklaiman paling benar di sini, kalaupun ada, sesungguhnya anda telah membantah sendiri hakekat filsafat itu sebagai sarana pencapaian kebijaksanaan”. 

Selanjutnya saya dikata-katai sebagai orang yang salah memahami NDP. Tapi saya tidak mau terjebak pada persoalan saling menyalahkan. Dari awal perbincangan saya telah mengalami benturan referensi dengan kanda Takbier, terutama ketika dia mendefinisikan pengertian ilmu sebagai kumpulan pengetahuan-pengetahuan.  

Bagi saya jika kita harus berpatokan dalam kaidah definisi yang konsisten berdasarkan aturan dalam ilmu logika, saya menemukan bahwa definisi ilmu yang digunakan oleh Kanda Takbir Watta itu tidak memiliki batasan. “kumpulan pengetahuan-pengetahuan” terlalu umum untuk menjelaskan terminologi ilmu. Pengetahuan itu sendiri tak memiliki batasan yang jelas, sehingga definisi itu gagal untuk menggabarkan realitas terhadap ilmu itu sebagaimana adanya.  

Saya kemudian lebih sepakat dengan definisi ilmu sebagai pengetahuan sistematis yang telah memenuhi syarat-syarat dalam metode ilmiah atau merupakan rangkuman hukum-hukum alam dan sosial yang tersusun secara sistematis berdasarkan metode ilmiah. Bahwa ilmu itu adalah pengetahuan aposteriori. Dengan demikian kita dapat membedakan mana pengetahuan sebagai ilmu dan mana pengetahuan sebagai pengetahuan secara umum (segala sesuatu yang kita ketahui). Jadi di sini jelas batasan ilmu itu yakni ada pada ukuran ilmiah dan tidak ilmiah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat matriks pengetahuan menurut Ahmad Tafsir, yakni:
-     Pengetahuan Sains, objek empiris, paradigma sains, metode sains, kebenarannya ditentukan logis dan bukti empiris
-     Pengetahuan Filsafat, objek abstrak tetapi logis, paradigmanya logis, metode rasio, ukuran kebenaran logis dan tidak logis
-     Pengetahuan Mistik, objek abstrak supralogis atau metarasional, paradigma mistis, metode latihan atau riyadlah, ukuran kebenaran ditentukan oleh ras, yakin, kadang-kadang empiris
 
Kegelisahan saya akhirnya terobati dengan kehadiran pemateri NDP bernama Kanda Amrullah Yasin yang merupakan mantan anggota Tim 8 perumus NDP versi kongres Makassar tahun 2006. NDP versi kongres Makassar ini selanjutnya akrab dikenal dengan NDP Baru.  

Dalam mengawali pembicaraan NDP Bab I Dasar-Dasar Kepercayaan, kanda Amrullah menayakan, “apakah Tuhan yang benar itu adalah Tuhan yang dapat di buktikan secara Empiris atau Tuhan yang tidak dapat dibuktikan?” dan “mengapa Tuhan sampai saat ini masih dianggap sebagai Tuhan?”. 

Mendengar pertanyaan itu peserta kemudian menjawab bahwa Tuhan yang benar itu adalah Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, dan itu pula menjadi alasan kenapa Tuhan sampai saat ini masih tetap menjadi Tuhan, sebab sampai saat ini Tuhan belum bisa dijangkau oleh manusia. Kenisbian manusia dan kemutlakan Tuhan menjadikan manusia mustahil mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan.  

Pengetahuan manusia merupakan persepsi atau pencerapan dan abstraksi dari suatu objek yang diketahui atau dari kenyataan itu sendiri. Namun antara objek itu dan pengetahuan kita tentangnya (objek itu) tidaklah sama, sebab objek itu beridiri sendiri dan tidak bergantung pada persepsi kita padanya. Begitupun dalam memikirkan Tuhan yang tergolong dalam pengetahuan mistik, tidaklah cukup mengandalkan rasio untuk mencapai pengetahuan tentang-Nya. Jika dengan rasio kita telah merasa mengetahui, maka sesungguhnya kita hanya menyembah dan meyakini Tuhan hasil persepsi kita. Pada pengertian seperti ini, Tuhan seolah sejajar dengan Atom, Proton, gaya gravitasi, yang bisa dipikirkan dan dibenarkan adanya oleh manusia, lalu apa bedanya kita dengan menyembah patung-patung yang kita buat sendiri? 

Saya pikir pernyataan pemateri (baca: Kanda Amrullah) itu benar. Pada zaman dulu orang membuat patung untuk disembah sebagai bentuk Tuhan hasil pembacaan mereka terhadap gerak alam semesta dan kejadian-kejadian yang mereka saksikan. Sekarang kita membuat persepsi-persepsi tentang Tuhan dalam pikiran kita lalu kita merasa telah mengetahui-Nya lalu kemudian meyakini dan menyembah-Nya.  

Selanjutnya dalam pembahasan itu kanda Amrullah Yasin membuat kerangka yang cukup rumit untuk menjelaskan bagaimana seorang filosof membuat argumentasi logis yang terkesan begitu meyakinkan. Tak cukup itu dijelaskan pula adanya kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalamnya.  

Keterikatan pada aturan logika adalah ciri khas dalam argumentasi filosofis. Disini muncullah perbedaan dalam memahami kebenaran antara NDP versi Cak Nur dan versi Kongres Makasar (disebut juga versi Aryanto Achmad). Kebenaran menurut NDP Cak Nur adalah asal dan tujuan dari segala kenyataan, sedangkan menurut NDP Aryanto Achmad kebanaran adalah kesesuaian antara ide dan realitas. Jelas sekali yang terakhir adalah teori kebenaran korespondensi (correspondence theory of truth) yang mengakar kuat dalam argumentasi-argumentasi filsafat. Selain itu ada pula teori kebenaran yakni teori koherensi (consistence theory of truth) yang mengangg-ap kebenaran itu bergantung pada koherensi atau konsistensi degan peryataan-pernyataan sebelumnya yang kita anggap benar. Lalu ada juga teori kebenaran pragmatis (pragmatic theory of truth) yang menganggap kebenaran itu bergantung pada manfaat praktisnya selanjutnya ada juga teori kebenaran hudhuri atau iluminasi yakni kebenaran dalam pengetahuan swaobjek yang tidak membutuhkan hubungan dengan objek eksternal. Sekarang dalam kasus NDP, kita dapat bertanya apakah NDP itu sama dengan filsafat ataukah merupakan tafsir Al Quran (tema-tema besar dalam Al Quran)?  

Mengenai hal itu kanda Amrullah menjelaskan dengan mengutip tulisan Cak Nur dalam latar belakang perumusan NDP HMI, bahwa NDP merupkan kesimpulan dari sebuah perjalanan ke Timur Tengah. Dalam perjalanan itu Cak Nur banyak melakukan diskusi dan sempat menghatam Al Quran dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Dalam menghatamkan Al Quran itu, beberapa hal yang relevan dengan pemikiran Islam di Indonesia diberi catatan dengan komentar-komentarnya (Cak Nur). Kanda Amrullah kemudian dengan tegas mengatakan bahwa NDP adalah tafsir Al Quran kontemporer dan bukan materi filsafat ilmu. Sehingga dengan berpaling kembali dalam perdebatan filsafat, maka kita berarti kembali dalam perdebatan klasik antara Plato dan Aristoteles dan filsuf-filsuf lainnya. 

Mendengar penjelasan itu saya teringat dengan buku filsafat modern karya F.Budi Hardiman yang memuat perkembangan pemikiran filsafat modern dan argumen saling kritik antara sesama filsuf. Jika kaidah filsafat itu dipaksakan dalam bab NDP, kemungkinan nilai dasar kita hanya akan diwarnai oleh perdebatan seputar filsafat, sebab tidak semua orang sepakat dengan satu warna atau aliran dalam filsafat tertentu. 

Kita mesti dapat merangkum kembali nilai-nilai universal yang berpijak pada tafsir Al Quran dan hadist sebagai nilai dasar dalam gerak kader-kader HMI. Hal ini wajar dilakukan sebab saya percaya kader HMI tidak ada yang atheis, jadi jangan NDP seolah-olah adalah ceramah untuk golongan atheis yang tidak percaya Tuhan kita itu. Lagi pula pendekatan filosifis ternyata tidak pas untuk berbicara dalam wilayah ke-Tuhan-an yang sebenarnya, seperti Al Farabi yang menjelaskan teori emanansinya dengan gerak akal 1 sampai 10 dan hubungannya dengan penciptaan alam semesta ternyata keliru sebab urutan tata surya  yang dijelaskannya hanya tujuh (saturnus, Jupiter, Mars, Matahari,Venus, Merkurius dan Bumi) sesuai dengan pengetahuan astronomi di masanya. 

Kembali pada penjelasan kanda Amrullah, bahwa kebenaran itu adalah asal dan tujuan dari segala kenyataan, yakni tempat bergantungnya segala sesuatu. Apakah Tuhan sama dengan kebenaran? Tuhan tidak sama dengan  kebenaran,  sebab kebenar-an sendiri memiliki asal dan tujuan sebagaimana adanya keyataan-kenyataan yang lain. Karena itu Tuhan mejadi satu-satunya tujuan dari seluruh aktifitas di alam semesta. 

Atas alasan itu pula, dalam kalimat syahadat pertama berisi persaksian kita “tiada Tuhan selain Allah” yakni penggabungan antara peniadaan dan pengecualian terhadap kesakralan eksistensi lain selain Tuhan itu sendiri. Peniadan dan pengecualian ini pada hakekatnya akan membebaskan manusia dari segenap belenggu-belenggu kepercayaan dan hanya tunduk patuh terhadap satu kebenaran yakni asal dan tujuan dari segala kenyataan. 

Bagaimana Tuhan menyampaikan firmannya kepada manusia? Maka disini Tuhan memilih salah seorang dalam jenis manusia sebagai perantara atau pembawa kabar berita dari alam ghaib. Analogi kasar dari rasull dapat diidentikkan dengan tukang pos yang mengantarkan surat dari pengirim sampai kepada penerima. Lembaga pos itu sendiri harus terbukti jujur dan dapat dipercaya agar surat yag dikirimkan tidak dikurangi jumlah dan kualitasnya. Untuk itu, seorang rasul harus terbukti jujur sehingga dapat dipercaya oleh umatnya. Nabi Muhamad sejak kecil telah dikenal dengan kejujurannya. Lalu Tuhan menurunkan firman-Nya dan keluar dari lisan Muhammad seorang manusia yang tidak pernah berdusta. Dari penjelasan itu, maka esesnsi kedua kalimat persaksian adalah menyakini bahwa “Muhammad adalah Rasul Allah. 

Di akhir tulisan ini, saya sedikit berbicara mengeai daerah konf5lik (Poso). Bahwa peserta LK-II waktu itu lebih banyak dari tuan rumah (HMI Cabang Poso). Hal ini disebabkan karena sebagian kader HMI di luar daerah merasa khawatir dengan torehan peristiwa di Poso, namun harus diketahui bahwa kondisi di Poso tidak lagi seperti apa yang kita pikirkan dan dengar selama ini yakni sebagai “daerah konflik”. Poso tidak bedanya dengan daerah-daerah lain yang aman dan tentram.


1 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com